Download OkeKlinik App

Temukan Dokter

Komunikasikan masalah kesehatan dengan mudah

Hidup Sehat

Sering Migrain dan Insomnia? Mungkin Anda Perlu Terapi Neurofeedback

Artikel dipublikasikan : 10 Juni 2024 16:44
Dibaca : 33 kali

Terapi neurofeedback dilakukan untuk pasien yang memiliki gangguan pada otak. Terapi ini cocok untuk orang yang mengalami ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), depresi, kecemasan, insomnia, migrain, kecanduan, gangguan obsesif kompulsif, energi rendah, dan untuk mengontrol kemarahan. 

Terapi Neurofeedback juga dikenal dengan istilah EEG Biofeedback, yakni suatu teknik yang dapat digunakan untuk mengontrol beberapa fungsi tubuh. Selama terapi ini berlangsung, Anda akan terhubung dengan sensor listrik yang membantu Anda menerima informasi tentang tubuh. 

Pada terapi neurofeedback, pemasangan sensor listrik dilakukan di kulit kepala pasien. Namun, tentu saja itu tidak menimbulkan rasa sakit dan tidak seseram yang terlihat. Pita atau elektroda akan dipasang untuk memantau bagian otak yang berbeda, bergantung pada lokasi penempatannya. 

Sensor EEG berfungsi untuk memantau gelombang otak. Sensor khusus (Elektroda) akan dipasang di kepala dan dihubungkan melalui kabel ke komputer. EEG akan merekam aktivitas otak yang dipersentasikan dengan garis gelombang.

Kemudian, melalui umpan balik audio atau visual, pasien dapat melihat bagaimana otak mereka bereaksi terhadap berbagai perintah yang diberikan oleh terapis atau praktisi. Reaksi-reaksi tersebut dicatat dalam grafik sehingga pasien dapat melihat bagaimana reaksi alaminya. Setelah terapi ini, pasien kemudian dapat bekerja sama dengan profesional untuk memahami mengapa mereka mengalami reaksi tersebut. 

Manfaat Terapi Neurofeedback

Manfaat utama terapi neurofeedback adalah untuk dapat menampilkan cara kerja otak bagian dalam. Hal ini dapat menunjukkan reaksi terhadap hal-hal yang tidak Anda sadari, yang dapat membantu Anda mengidentifikasi perilaku yang tidak membantu dan berupaya mengubahnya.

Selain itu, terapi neurofeedback juga bermanfaat untuk menunjukkan reaksi otak Anda secara real-time. Hal ini memungkinkan Anda memahami reaksi Anda dengan lebih baik dan melihatnya dari sumber yang tidak memihak. Hal ini sangat baik terutama bagi mereka yang kesulitan mengendalikan amarah karena mereka sering kali peka terhadap masukan dari luar.

Efektivitas

Meskipun masih diteliti sebagai solusi untuk banyak kondisi, terapi neurofeedback efektif dalam studi kelompok kecil. Namun efektivitasnya juga bergantung pada jumlah sesi dan kondisi.

Terapi ini juga efektif dalam meningkatkan aktivitas otak dalam sebuah penelitian dengan 20 orang dewasa yang lebih tua. Anggota kelompok melakukan tes memori dan IQ sebelum dan sesudah delapan sesi paparan gamma atau 30 menit. Setelah setiap pengobatan, mereka menemukan peningkatan signifikan dalam aktivitas otak individu, yang menunjukkan bahwa otak yang menua mungkin mampu melakukan lebih dari yang diperkirakan sebelumnya. Meskipun demikian, mereka tidak menemukan perbedaan apa pun dalam fungsi kognitif.

Hal ini juga terbukti berdampak pada anak-anak dengan ADHD. Dalam sebuah penelitian, baik orang tua maupun anak-anak melaporkan perbedaan yang signifikan setelah menghabiskan musim panas dalam pelatihan neurofeedback intensif.

Jenis Terapi Neurofeedback

Terapi neurofeedback memiliki beberapa jenis terapi  yang sedikit berbeda. Untuk setiap jenis, elektroda yang ditempelkan pada kulit mencari frekuensi otak tertentu yang pada dasarnya adalah kecepatan pancaran gelombang otak yang dapat menunjukkan bagaimana reaksi seseorang. Jenis frekuensi yang berbeda mewakili jenis fungsi atau reaksi otak yang berbeda.

Berikut ini beberapa jenis neurofeedback :

  • Frequency/Power Neurofeedback

Jenis terapi ini merupakan yang paling sederhana dan umum, kadang disebut sebagai "umpan balik saraf permukaan". Ini melibatkan pemasangan dua hingga empat elektroda di kepala untuk mendeteksi frekuensi yang terkait dengan ADHD, kecemasan, dan insomnia.

  • Slow Cortical Potential Neurofeedback (SCP-NF)

Jenis terapi ini bertujuan untuk membantu orang yang menderita ADHD, epilepsi, dan migrain. Bahkan telah diuji pada anak-anak yang menderita ADHD sebagai alternatif potensial untuk solusi farmakologis.

  • Low-Energy Neurofeedback System (LENS)

Selain membantu penderita gangguan hiperaktif, neurofeedback juga dapat membantu penderita energi rendah. Jenis terapi ini bertujuan untuk mengubah gelombang otak pasien saat berbaring tak bergerak dengan mata tertutup. Dapat digunakan untuk membantu penderita insomnia, fibromyalgia, sindrom kaki gelisah, kecemasan, depresi, dan kemarahan.

Jenis terapi ini tidak memerlukan upaya sadar dari pasien. Tipe ini bekerja dengan cara menempelkan elektroda pada kepala. Ini mengidentifikasi area dimana aktivitas otak rendah.

Elektroda kemudian memancarkan frekuensi medan magnet yang sangat rendah, yang seiring waktu berpotensi mengubah fungsi otak.

  • Hemoencephalographic (HEG) Neurofeedback

Jenis terapi neurofeedback ini ditujukan untuk orang yang menderita migrain parah. Elektroda menunjukkan di mana aliran darah berada di otak dan bekerja menggunakan informasi ini untuk meningkatkan aliran darah dan mengurangi rasa sakit atau kambuhnya migrain.

  • Live Z-score Neurofeedback

Jenis terapi neurofeedback ini ditujukan untuk orang yang menderita insomnia. Menurut sebuah studi kasus, bahkan gejala kelompok membaik setelah 15 sesi yang masing-masing berdurasi 20 menit.

  • Low-Resolution Electromagnetic Tomography (LORE-TA)

Terapi ini memerlukan 19 pemasangan elektroda, karena terapi ini memantau otak untuk aktivitas otak tertentu yang berkaitan dengan gangguan obsesif-kompulsif, kecanduan, dan depresi. Jenis terapi ini telah mengungkapkan banyak detail rumit tentang cara kerja otak orang yang kecanduan.

  • Pencitraan Resonansi Magnetik Fungsional (fMRI)

Ini masih merupakan metode terapi neurofeedback yang paling banyak berbasis penelitian. Metode ini menggunakan elektroda untuk memetakan cara kerja bagian dalam otak.

Teknik

Teknik yang digunakan dalam terapi neurofeedback bermacam-macam. Setelah terpasang elektroda di kepala Anda,  mungkin Anda akan diminta untuk menonton film atau mendengarkan konten audio sambil memantau aktivitas otak Anda.

Anda akan dapat melihat reaksi otak Anda secara real-time. Pasien yang menonton film dan layar menjadi lebih terang ketika otak mereka menghasilkan gelombang otak tertentu. Sebaliknya, layar menjadi lebih redup ketika otak menghasilkan gelombang otak yang kurang menguntungkan. 

Dalam teknik ini, idenya adalah Anda dapat mempelajari cara menghasilkan gelombang otak yang menjaga layar tetap terang. Hal ini menunjukkan potensi suatu hari nanti menggunakan terapi ini untuk memblokir pikiran negatif dan mengurangi efek perilaku adiktif.

Bagaimana Teknik Ini Bekerja? 

Neurofeedback tidak dianggap sebagai obat, melainkan metode mengelola atau mengatur cara kerja otak agar berfungsi lebih sehat. Hal ini dicapai melalui sesi pelatihan berulang kali, dengan menggunakan program neurofeedback terkomputerisasi yang mengajarkan sistem saraf pusat untuk mengatur ulang dan mengatur frekuensi gelombang otak.

Idenya adalah pasien dapat melihat gelombang otak yang tergambar di depannya. Jika mereka dapat belajar mengubah pemikirannya untuk menghasilkan pola aktivitas yang diinginkan, mereka dapat mengatasi dampak berbahaya yang terkait dengan pola aktivitas aslinya.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa EEG dapat membantu mengurangi gejala ADHD pada anak-anak. Aktivitas otak pada penderita ADHD terkadang dikaitkan dengan peningkatan kekuatan gelombang theta, gelombang otak yang lebih lambat, dan penurunan kekuatan gelombang beta, gelombang otak yang lebih cepat. EEG kemudian dapat digunakan untuk membantu anak-anak belajar menggeser rasio kedua jenis gelombang otak ini.

Apa yang Harus Diperhatikan?

Saat hendak mencari perawatan neurofeedback, penting untuk diperhatikan mengenai kompetensi terapis. Lisensi keahlian untuk terapis dikeluarkan oleh The Biofeedback Certification International Alliance. 

Tanyakan terlebih dahulu tentang terapis Anda, bagaimana cara mereka melakukan neurofeedback, dalam situasi apa, atau apakah mereka menggunakan perangkat yang dapat digunakan seseorang untuk melanjutkan prosesnya secara mandiri. 

Tanyakan pula bagaimana mereka dapat membantu mengatasi kekhawatiran khusus Anda, jika mereka pernah menangani masalah seperti ini sebelumnya, seperti apa proses mereka, bagaimana tata waktu untuk melakukan terapi.   

Profesional kesehatan mental berlisensi yang telah dilatih untuk menggunakan peralatan dan program neurofeedback dapat memberikan layanan neurofeedback di praktik dan klinik swasta mereka. 

Pastikan Anda ditangani oleh terapis yang membuat Anda merasa nyaman mendiskusikan masalah pribadi, yang menunjukkan pemahaman tentang kasus khusus Anda, dan yang dapat dengan jelas menjelaskan proses neurofeedback dan potensi manfaatnya.

_________________________

Referensi: 

Very Well Mind (2023), What Is Neurofeedback Therapy? 
Ciputra Medical Center (2024), Neurofeedback Therapy untuk ADHD.
Christiansen H, Reh V, Schmidt MH, Rief W. Slow cortical potential neurofeedback and self-management training in outpatient care for children. with ADHD: study protocol and first preliminary results of a randomized controlled trial. Front Hum Neurosci. 2014;8:943.






 

Hubungi Kami
Teras Mahakam (sebelah hotel Gran Mahakam)
Jl. Mahakam No.8, RT.1/RW.7, Kramat Pela,
Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan,
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12130
0217392285
business.support@okeklinik.com
help@okeklinik.com