Download OkeKlinik App

Temukan Dokter

Komunikasikan masalah kesehatan dengan mudah

Hidup Sehat

Stigma Tes Keperawanan di Indonesia

Artikel dipublikasikan : 24 November 2022 14:42
Dibaca : 42 kali

Foto : Freepik

Stigma negatif dan polemik di seputar tes keperawanan masih berlaku di Indonesia. Apa dan bagaimana tes keperawanan dilakukan, serta adakah manfaatnya bagi kesehatan, dapat disimak di artikel ini.

Keperawanan seorang wanita masih menjadi ukuran penting dalam menilai kesucian seorang wanita di Indonesia. Sebagian besar masyarakat masih memandang wanita yang dapat menjaga keperawanannya hingga tibanya  malam pengantin sebagai wanita suci yang sangat menjaga kehormatannya. 

Keperawanan yang diartikan sebagai belum pernah melakukan hubungan seks, adalah simbol kesucian seorang wanita yang belum menikah. Tanda keperawanan adalah selaput dara atau hymen yang masih utuh dan tidak robek. 

Sebaliknya, stigma yang negatif diberikan oleh sebagian masyarakat kepada seorang wanita yang sudah tidak perawan. 

Baca Juga : Ciri-Ciri Penyakit Kista Pada Wanita yang Belum Menikah

Tes keperawanan secara medis

Untuk mengetahui apakah seseorang masih perawan atau tidak, maka dilakukanlah tes keperawanan. Caranya adalah dengan melakukan pemeriksaan panggul atau pemeriksaan vagina. 

Prosedur ini dilakukan dengan memeriksa selaput dara untuk mengetahui apakah ada peregangan atau robekan pada hymen yang menandakan seorang wanita sudah tidak perawan.

International Society for Sexual Medicine menyebutkan, sebagian besar tes keperawanan dilakukan dengan metode “dua jari”. Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan dua jari ke lubang vagina untuk memeriksa selaput dara.

Namun dalam kenyataannya, tes keperawanan pun tidak bisa memberikan informasi mengenai perawan atau tidaknya seorang wanita. Bahkan, dokter ginekologi pun tidak dapat mengetahui keperawanan wanita hanya dengan melakukan prosedur ini. 

Sebab, struktur dan elastisitas selaput dara pada tiap wanita berbeda-beda, serta hymen bisa berubah seiring bertambahnya usia. 

Sebagian wanita mungkin saja mempunyai selaput dara yang lebih kuat, sehingga bisa meregang dan tidak mudah robek dan berdarah. Sedangkan sebagian wanita lainnya mungkin sebaliknya, mempunyai hymen yang mudah robek karena aktivitas seperti olahraga, berkuda, atau terjatuh. Bahkan, ada sebagian wanita yang tidak memiliki selaput dara sama sekali.

Jadi dapat disimpulkan bahwa tes keperawanan tidak menghasilkan data atau informasi yang valid. 

Sementara itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) berpendapat bahwa keperawanan merupakan konstruksi sosial, budaya, dan agama, tanpa dasar medis atau ilmiah. Wanita yang selaput daranya longgar atau robek bukan berarti sudah tidak perawan dan pernah berhubungan seksual. Satu-satunya cara untuk mengetahui keperawanan wanita adalah melalui pengakuan individu tersebut.

Pemeriksaan panggul 

Cara lain dalam tes keperawanan adalah dengan cara pemeriksaan panggul. Cara ini sebetulnya dilakukan dalam pemeriksaan kesehatan fisik secara rutin. Yaitu, saat mengidentifikasi tanda-tanda kehamilan, kista ovarium, infeksi menular seksual, fibroid rahim atau kanker stadium awal. 

Pemeriksaan panggul mungkin disarankan pada pasien yang mengalami gejala ginekologi seperti nyeri panggul, pendarahan vagina yang tidak biasa, perubahan kulit, keputihan abnormal atau masalah kencing. 

Pemeriksaan panggul dilakukan oleh dokter untuk mendiagnosis penyebab gejala tersebut di atas. Dokter dapat memberikan rekomendasi untuk melakukan tes atau perawatan untuk mendapatkan diagnosis tambahan. 

Tes keperawanan berdampak buruk pada anak 

Wacana untuk mengadakan tes keperawanan bagi siswi sekolah menengah atas (SMA) sempat mencuat beberapa tahun silam. Namun, dilihat dari perkembangan psikologi anak, tes keperawanan justru dapat menimbulkan efek buruk dari sisi kejiwaan anak-anak. 

Hasil dari tes keperawanan ini akan memunculkan stigma bahwa anak tersebut dinyatakan sudah tidak perawan. Stigma tersebut justru akan memperburuk kondisi anak-anak dan menghambat potensi mereka.

Label “sudah tidak perawan” itu dapat membuat si anak merasa down karena terbongkarnya privasi. Bahkan, tes keperawanan dapat membuat anak  tersebut bertingkah lebih brutal. Mereka bisa saja berpikir karena sudah terlanjur dicap tidak perawan, maka perilakunya justru menjadi semakin lebih parah. Hal ini justru  akan berbahaya. 

Penghapusan tes keperawanan

Stigma buruk dari hasil tes keperawanan di Indonesia akhirnya membuat instansi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI)  menghapuskannya dari syarat tes kesehatan calon polisi wanita (polwan) dan prajurit angkatan darat, laut, dan udara. Tes keperawanan dinilai tidak relevan dengan tujuan pendidikan kemiliteran TNI. 

Polri lebih dulu dibanding TNI dalam menghapus tes keperawanan dalam rekrutmen, yaitu semenjak tahun 2014. Sedangkan pada institusi TNI, tes keperawanan dihapuskan sejak tahun 2021 lalu. 

Tes keperawanan dianggap diskriminatif 

Penghapusan tes keperawanan dalam seleksi calon polisi wanita dilakukan oleh Polri karena tes ini dianggap diskriminatif. Tes tersebut hanya berlaku bagi calon personel polisi perempuan tapi tak ada bagi laki-laki. Hal ini bertentangan dengan tugas utama polisi dalam menegakkan hukum dan tidak sesuai dengan persamaan hak antara kaum perempuan dan lelaki. 

Tes keperawanan juga akan menutup peluang bagi perempuan untuk mengabdi ke institusi kepolisian. Bila tes keperawanan diberlakukan, maka perempuan dan anak korban pemerkosaan tidak akan bisa berkarier di institusi kepolisian. Peluang mereka akan tertutup karena tak lagi memiliki selaput dara yang utuh. 

Tes keperawanan menurut Komnas Perempuan 

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) juga menilai   praktik tes keperawanan adalah diskriminatif, bila digunakan untuk menyeleksi calon anggota polisi wanita.  
Sebab, meski hasil tes tidak mempengaruhi dapat tidaknya seseorang lolos sebagai calon anggota polisi wanita (polwan), praktik ini diskriminatif karena dilatari oleh prasangka berbasis gender yang merendahkan perempuan.

Tes keperawanan adalah tindakan memeriksa kondisi selaput dara yang kerap direkatkan dengan asumsi pernah tidaknya seorang perempuan melakukan hubungan seksual. Tes ini tidak memiliki kemanfaatan medis untuk menentukan kondisi kesehatan seseorang, melainkan lebih lekat pada prasangka mengenai moralitas perempuan dan dapat menimbulkan trauma bagi yang mengalaminya.

Kondisi selaput dara dengan gampang dijadikan pembeda antara “perempuan baik-baik” dan ‘perempuan nakal’. Stigma ‘perempuan nakal’ sangat kuat di tengah aparat dan masyarakat yang kurang memiliki pemahaman bahwa ketidakutuhan selaput dara bukan saja akibat hubungan seksual. 

Stigma ini semakin kuat terutama di kalangan yang kurang memiliki kepekaan dan empati kepada perempuan korban perkosaan dan eksploitasi seksual.

Tes keperawanan menurut psikolog 

Menurut seorang psikolog, Inez Kristanti, stigma tentang keperawanan memberikan dampak psikologis pada seorang wanita terlebih jika dianggap gagal menjaga diri. Stigma ini membuat harga diri seorang perempuan hanya diukur dari keperawanan saja. 

Tak bisa dipungkiri jika budaya masyarakat Indonesia masih menitikberatkan pada keperawanan. Dan kadang-kadang itu bisa menjadi problem. 

Selaput dara yang robek saat berhubungan intim tidak bisa dijadikan indikasi untuk menilai keperawanan. Sebab, ada wanita yang sudah berkali-kali melakukan hubungan seksual tapi belum berdarah sama sekali. Jadi tidak bisa kalau mau mengecek keperawanan berdasarkan selaput dara. 

Diperlukan sikap arif dan bijaksana untuk tidak menyudutkan wanita yang dianggap sudah tidak perawan, apapun penyebabnya. Setiap orang punya kesempatan untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. Setiap orang pasti punya masa lalu. Mungkin saat itu dia memilih keputusan yang salah. Tapi, siapapun punya hak untuk memperbaiki apapun dalam hidupnya.

_________________________

Referensi : 

Kompas (2013), Psikolog Sosial: Tes Keperawanan Berdampak Buruk pada Anak

https://regional.kompas.com/read/2013/08/20/1438041/Psikolog.Sosial.Tes.Keperawanan.Berdampak.Buruk.pada.Anak.

Tempo.co (2018), Psikolog: Stigma Keperawanan Buruk buat Perempuan

https://cantik.tempo.co/read/1123697/psikolog-stigma-keperawanan-buruk-buat-perempuan

Hukum  Online (2014), Disayangkan, Tes Keperawanan di Institusi Polri Masih Berlangsung

https://www.hukumonline.com/berita/a/disayangkan--tes-keperawanan-di-institusi-polri-masih-berlangsung-lt546f32440767d/

World Health Organization (diakses pada 2022),  Eliminating virginity testing.

Medicinet (diakses pada 2022), Can a Gynecologist See If You’re a Virgin?

Mayo Clinic (diakses pada 2022),  Pelvic exam.

International Society for Sexual Medicine (diakses pada 2022), What is virginity testing? Why is it used, and what are its potential effects?

Medical News Today (diakses pada 2022), What happens when you lose your virginity?

 

 
Hubungi Kami
Terace Mahakam, Jl. Mahakam No.6, Kramat Pela,
Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan,
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12130
02122772701
business.support@okeklinik.com
help@okeklinik.com